Izinkan Dirimu Untuk Mengalami Kegagalan

 

Kita sekarang berada dalam satu situasi yang tidak menentu. Tahun 2025, bangsa Indonesia harus menghadapi tantangan yang komplek untuk mencapai kehidupan yang layak bagi diri mereka. Keadaan ekonomi, social dan perpolitikan bangsa tidak lah mendukung bagi sebagian besar rakyat yang bernaung dibawah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Jangankan keluarga miskin, kelas menengah saja dihadapkan dengan permasalahan penurunan daya beli, peningkatan hutang dan semakin lebar dan nyata terjadi ketimpangan disana sini. Hal ini diperkuat dengan sebuah kenyataan bahwa pada kuartal I 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,87% (y-on-y), menurun dari 5,11% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ini merupakan pertumbuhan terendah dalam tiga tahun terakhir, dipengaruhi oleh ketidakpastian global dan penurunan konsumsi domestik.

Tak ayal, sebagian kaum terdidik sempat menyuarakan kabur aja dulu mengingat keadaan yang pada kenyataannya mayoritas penduduk negri ini merasa tidak mendapatkan pembelaan dari pemerintah dengan paket kebijakan yang dikeluarkan. Ibarat kata, kita disuruh cari uang sendiri dan kalo sudah dapat uang, dikejar kejar bayar pajak. Meskipun tidak selalu tepat juga ketika dikatakan pemerintah tidak melindungi rakyatnya. Beberapa program seperti paket stimulus pemerintah tahun 2025 mulai digalakkan untuk mendorong konsumsi dan pertumbuhan, antara lain dengan diskon listrik untuk 79,3 juta rumah tangga, bantuan pangan untuk 18,3 juta keluarga berpenghasilan rendah, transfer tunai untuk pekerja berpendapatan rendah, dan diskon transportasi selama liburan sekolah.

Tapi jika dibandingkan dengan luas dan jumlah penduduk Indonesia, paket stimulus ini tentu tidak memadahi. Setidaknya tidak akan dapat dengan cepat menggerakkan pasar di bawah, karena pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat adalah sekarang bukan waktu yang akan datang.

Saat ini pemerintah masih sibuk dengan urusan dapurnya sendiri. Pemotongan anggaran belanja negara, kasus korupsi yang gede gede an (kasus pertamina Rp. 968, 5 trilyun), dan kasus suap dalam penegakan hukum, menyebabkan kekhawatiran penurunan kualitas pelayanan public serta penurunan kepercayaan publik kepada pemerintah.

Selanjutnya,dihadapkan dengan kenyataan tersebut, apa yang harus dilakukan bangsa ini? Jika meminjam istilah dari presiden pertama, Soekarno, setiap orang di negara ini harus bisa berdikari (berdiri di kaki sendiri). Terlalu banyak usia produktif di Indonesia yang mengalami situasi psikologis False Comfort (kenyamanan palsu) karena terlalu lama dalam kesulitan dan kesusahan, sehingga menganggap hal yang seperti itu adalah biasa. Kondisi ini menimbulkan sikap survival mode, yang penting hari ini aman, dan yang akan dating tidak perlu untuk direncanakan toh juga begini begini saja. Pada akhirnya dengan berbagai alasan adanya hambatan structural, ketidakpastian hasil, system social yang tidak mendukung menjadikan bangsa ini semakin takut keluar dari zona nyaman.

Sudah menjadi hokum alam ketika manusia melakukan sebuah usaha akan menemui dengan tiga kemungkinan, yaitu keberhasilan, impas, maupun kegagalan. Namun yang sering terlupa dari diri kita adalah memberikan kesempatan kepada diri untuk merasakan kegagalan sebuah usaha. Kegagalan atas upaya yang dilakukan dianggap sesuatu hal yang memalukan dan tabu. Padahal memberikan peluang kepada diri untuk mengalami kegagalan pada saat yang sama membuka pintu kesuksesan yang lebih besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Izinkan Dirimu Untuk Mengalami Kegagalan

  Kita sekarang berada dalam satu situasi yang tidak menentu. Tahun 2025, bangsa Indonesia harus menghadapi tantangan yang komplek untuk men...