KISAH RORO MENDUT DAN RORO BO di era KONTEMPORER (bag 2)



Sruputan kopi prahu api membersamai mentari..

Lanjut lagi tentang Roro Mendut….

Yang belum baca silahkan mampir dulu di tulisan sebelumnya.
Dari kisah roro mendut, setidaknya ada tiga plot besar; yakni pemaksaan oleh Adipati Pragolo II, kebijakan tirani Tumenggung Wiroguno dan perlawanan rakyat kecil si Roro Mendut. Tentu selain plot besar tersebut banyak kembang-kembang kisah ikutan. Diantara kembang yang ada menurut pribadi ku “Jualan Rokok Klobot” lah yang paling menarik. Kenapa jualan rokok klobot menggunakan petikan?? Itulah yang menarik. Baiklah, tanpa terlalu banyak cing cong kita bahas satu per satu plot kisahnya.


Pemaksaan Adipati Pragolo II
Roro Mendut adalah wanita yang penuh pesona, hampir semua mata lelaki tak bisa lepas dari kemolekan tubuhnya. Sampai disini tidak ada masalah, karena memang kecenderungan laki-laki ya dominannya ke perempuan. Yang jadi masalah adalah ketika pejabat seperti Adipati Pragolo II secara personal. Jika Pragolo saat itu menanggalkan titel dan jabatannya, dengan cara menyamar seperti rakyat biasa, mungkin persaingan akan menjadi sehat.

Pragolo II yang tidak melepaskan jabatannya untuk kepentingan pribadi menyebabkan stabilitas masyarakat menjadi guncang. Roro mendut menjadi tersandra, semua upaya yang dilakukan untuk melawan keuinginan Pragolo II sia-sia. Karena dia melawan sang pemangku kebijakan.

Jika Roro Mendut di manifestasikan dalam suatu bentuk yang secara umum menjadi incaran banyak manusia, seperti lahan bisnis, lahan tambang, los pasar dan atau lainnya. Maka kondisinya pun tidak jauh berbeda. Saat orang-orang / masyarakat umum yang berupaya melakukan upaya mengembangkan bisnis ataupun kemampuannya secara sehat akan menjadi sia-sia apabila Pragolo – pragolo banyak yang bermain secara pribadi dengan menggunakan kekuasaan yang kebetulan sedang ia jabat. Sedihnya, jika ternyata banyak Pragolo lain yang tidak punya kompetensi, namun ia dengan suka rela dijadikan cecunguk oleh para pemilik modal dengan imbalan alakadarnya.

Kebijakan Tirani Tumenggung Wiroguno

Setali tiga uang antarra Pragolo II dengan Wiroguno. Namun dalam kasus ini, ketika Pragolo II Mati, maka Roro Mendut akan aman. Karena Roro Mendut hanya melawan personal. Lain hal nya dengan manufer Wiroguno. Sebenarnya Wiroguno pun menginginkan hal yang sama dengan Pragolo II. Namun Wiroguno lebih cerdik dan lebih elegan. Seolah Wiroguno memberikan tawaran yang menarik kepada Roro Mendut. Jika Roro Mendut mau dengan tawaran itu, ia mungkin akan hidup dengan banyak kemudahan dan bebas memilih kesenangannya. 

Namun ternyata tawaran yang diberikan oleh Wiroguno adalah tawaran yang sifatnya tidak ada pilihan lain. Roro Mendut mempunyai idealismenya tersendiri. Ia tetap kokoh dengan pendiriannya, meski ia tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Wiroguno adalah pejabat yang kharismatik, berwibawa dan penuh pesona. Ia membunuh perlahan sebagian rakyatnya dengan dalih untuk kesejahteraan masyarakat lainnya dengan memberikan beban pajak. Perundangan yang dikeluarkan oleh Wiroguno memang punya efek langsung kepada kesejahteraan rakyat yang dinaunginya karena setiap hari pemerintahan dalam kekuasaannya dibawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo mendapatkan pendapatan sebesar 3 dinar ( 3 keping emas) perharinya. 

Tanpa disadari peraturan perundangan ini menyebabkan friksi di masyarakat, karena masing-masing kelompok mempunyai jawaban pembenar. Yang satu kelompok beralasan tentang kemanfaatan kolektif, sedang kepada kelompok lainnya beralasan tentang pengekangan terhadap kebebasan bergerak dan berkarya.

Perlawanan Rakyat Kecil si Roro Mendut

Sikap Roro Mendut dari awal hingga akhir sangat jelas. Ia menolak keinginan para penguasa yang memaksanya. Roro Mendut menjadi sebuah symbol rakyat kecil yang teguh dalam merawat dan menjaga idealismenya. Meski semua juga tahu akhir apa yang akan ia dapatkan saat melawan pemerintah baik personalnya apalagi kebijakan yang sudah diundangkan.

Sampai saat ini pun Roro Mendut masih ada di zaman modern, merekalah rakyat kecil yang tidak mau berdamai dengan aturan perundangan yang merugikan baik dirinya sebagai rakyat kecil ataupun saudara-saudaranya sebagai rakyat kecil. Roro Mendut telah mampu melewati ujian terakhirnya, yaitu saat dirinya teguh dengan idealismenya kemudian mendapat tawaran menarik dengan kenyamanan dan kenikmatan sebagai gantinya asal idealism itu di gadaikan, Roro Mendut tetap menolak.

Sayangnya, sangat sedikit Roro mendut saat ini. Mereka semakin terjepit saat sebagian besar rakyat lainyang mau menggadaikan idealismenya kemudian ikut menjadi “pejabat-pejabat ikutan” yang mengkampanyekan bahwa 3 keping uang emas per hari jauh lebih bermanfaat untuk pembangunan sebuah bangsa dari infrastruktur yang baik dan fasilitas umum yang memadai sehingga menjadi daya Tarik bagi investasi.

“RORO BO” di era kontemporer dengan “Jualan Rokok Klobot”

Ada satu plot yang sangat menarik, akhirnya Roro Mendut tetap memilih membayar pajak 3 keping uang emas perhari asal boleh jualan rokok klobot. Cara Roro Mendut berjualan adalah setiap lelaki yang ingin membeli rokok, ia masuk ke bilik Roro Mendut. Menurut cerita, Roro Mendut menjilat kertas klobot sebagai lemnya. Roro Mendut juga merokok dulu sebelum di serahkan kepada sang pembeli. Semakin basah klobotnya, dan semakin pendek puntung yang diberikan kepada pembeli, semakin mahal Roro Mendut mendapat bayaran.

Pertanyaan yang menggelayut kemudian, berapa box rokok yang harus dijual Roro Mendut dan juga berapa liter air liur yang dibutuhkan untuk mengelemnya? Untuk menghasilkan minimal 3 keping uang emas per hari.

Setelah mendapat pelajaran dengan pendekatan yang berbeda, ternyata “Jual Rokok Klobot” adalah penghalusan kisah. Rokok klobot memang ditawarkan sebagai additional service, tapi bisnis yang dilakukan sebenarnya adalah bisnis “anu”. 

Bisnis “anu” merupakan pertahanan terkahir yang dilakukan oleh Roro Mendut saat ketiadaan modal, sulitnya akses dan tidak ada perlindungan undang-undang.

Di jaman modern ini ternyata bisnis ala Roro Mendut di gemari oleh sebagian Roro Mendut di Era Kontemporer. Saya mengistilahkan dengan “Roro BO”. Dengan “bisnis klobot” dengan modal yang tidak terlalu ribet, 3 keping uang emas dapat diperoleh per hari.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah Roro Mendut di Era Kontemporer mengalami kondisi yang sama dengan Roro Mendut masa itu yang dia harus begitu karena tidak ada jalan yang lain?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Izinkan Dirimu Untuk Mengalami Kegagalan

  Kita sekarang berada dalam satu situasi yang tidak menentu. Tahun 2025, bangsa Indonesia harus menghadapi tantangan yang komplek untuk men...