Sruputan kopi prahu api
membersamai mentari..
Lanjut lagi tentang Roro Mendut….
Yang belum baca silahkan mampir
dulu di tulisan sebelumnya.
Dari kisah roro mendut,
setidaknya ada tiga plot besar; yakni pemaksaan oleh Adipati Pragolo II,
kebijakan tirani Tumenggung Wiroguno dan perlawanan rakyat kecil si Roro
Mendut. Tentu selain plot besar tersebut banyak kembang-kembang kisah ikutan. Diantara
kembang yang ada menurut pribadi ku “Jualan Rokok Klobot” lah yang paling
menarik. Kenapa jualan rokok klobot menggunakan petikan?? Itulah yang menarik. Baiklah,
tanpa terlalu banyak cing cong kita bahas satu per satu plot kisahnya.
Pemaksaan Adipati Pragolo II
Roro Mendut adalah wanita yang
penuh pesona, hampir semua mata lelaki tak bisa lepas dari kemolekan tubuhnya. Sampai
disini tidak ada masalah, karena memang kecenderungan laki-laki ya dominannya
ke perempuan. Yang jadi masalah adalah ketika pejabat seperti Adipati Pragolo
II secara personal. Jika Pragolo saat itu menanggalkan titel dan jabatannya,
dengan cara menyamar seperti rakyat biasa, mungkin persaingan akan menjadi
sehat.
Pragolo II yang tidak melepaskan
jabatannya untuk kepentingan pribadi menyebabkan stabilitas masyarakat menjadi
guncang. Roro mendut menjadi tersandra, semua upaya yang dilakukan untuk
melawan keuinginan Pragolo II sia-sia. Karena dia melawan sang pemangku
kebijakan.
Jika Roro Mendut di
manifestasikan dalam suatu bentuk yang secara umum menjadi incaran banyak
manusia, seperti lahan bisnis, lahan tambang, los pasar dan atau lainnya. Maka kondisinya
pun tidak jauh berbeda. Saat orang-orang / masyarakat umum yang berupaya
melakukan upaya mengembangkan bisnis ataupun kemampuannya secara sehat akan
menjadi sia-sia apabila Pragolo – pragolo banyak yang bermain secara pribadi
dengan menggunakan kekuasaan yang kebetulan sedang ia jabat. Sedihnya, jika
ternyata banyak Pragolo lain yang tidak punya kompetensi, namun ia dengan suka
rela dijadikan cecunguk oleh para pemilik modal dengan imbalan alakadarnya.
Kebijakan Tirani Tumenggung Wiroguno
Setali tiga uang antarra Pragolo
II dengan Wiroguno. Namun dalam kasus ini, ketika Pragolo II Mati, maka Roro
Mendut akan aman. Karena Roro Mendut hanya melawan personal. Lain hal nya
dengan manufer Wiroguno. Sebenarnya Wiroguno pun menginginkan hal yang sama
dengan Pragolo II. Namun Wiroguno lebih cerdik dan lebih elegan. Seolah Wiroguno
memberikan tawaran yang menarik kepada Roro Mendut. Jika Roro Mendut mau dengan
tawaran itu, ia mungkin akan hidup dengan banyak kemudahan dan bebas memilih
kesenangannya.
Namun ternyata tawaran yang
diberikan oleh Wiroguno adalah tawaran yang sifatnya tidak ada pilihan lain. Roro
Mendut mempunyai idealismenya tersendiri. Ia tetap kokoh dengan pendiriannya,
meski ia tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Wiroguno adalah pejabat yang
kharismatik, berwibawa dan penuh pesona. Ia membunuh perlahan sebagian rakyatnya
dengan dalih untuk kesejahteraan masyarakat lainnya dengan memberikan beban
pajak. Perundangan yang dikeluarkan oleh Wiroguno memang punya efek langsung
kepada kesejahteraan rakyat yang dinaunginya karena setiap hari pemerintahan
dalam kekuasaannya dibawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo mendapatkan
pendapatan sebesar 3 dinar ( 3 keping emas) perharinya.
Tanpa disadari peraturan
perundangan ini menyebabkan friksi di masyarakat, karena masing-masing kelompok
mempunyai jawaban pembenar. Yang satu kelompok beralasan tentang kemanfaatan
kolektif, sedang kepada kelompok lainnya beralasan tentang pengekangan terhadap
kebebasan bergerak dan berkarya.
Perlawanan Rakyat Kecil si Roro Mendut
Sikap Roro Mendut dari awal
hingga akhir sangat jelas. Ia menolak keinginan para penguasa yang memaksanya.
Roro Mendut menjadi sebuah symbol rakyat kecil yang teguh dalam merawat dan
menjaga idealismenya. Meski semua juga tahu akhir apa yang akan ia dapatkan
saat melawan pemerintah baik personalnya apalagi kebijakan yang sudah
diundangkan.
Sampai saat ini pun Roro Mendut
masih ada di zaman modern, merekalah rakyat kecil yang tidak mau berdamai
dengan aturan perundangan yang merugikan baik dirinya sebagai rakyat kecil
ataupun saudara-saudaranya sebagai rakyat kecil. Roro Mendut telah mampu melewati
ujian terakhirnya, yaitu saat dirinya teguh dengan idealismenya kemudian
mendapat tawaran menarik dengan kenyamanan dan kenikmatan sebagai gantinya asal
idealism itu di gadaikan, Roro Mendut tetap menolak.
Sayangnya, sangat sedikit Roro
mendut saat ini. Mereka semakin terjepit saat sebagian besar rakyat lainyang
mau menggadaikan idealismenya kemudian ikut menjadi “pejabat-pejabat ikutan”
yang mengkampanyekan bahwa 3 keping uang emas per hari jauh lebih bermanfaat
untuk pembangunan sebuah bangsa dari infrastruktur yang baik dan fasilitas umum
yang memadai sehingga menjadi daya Tarik bagi investasi.
“RORO BO” di era kontemporer dengan “Jualan Rokok Klobot”
Ada satu plot yang sangat
menarik, akhirnya Roro Mendut tetap memilih membayar pajak 3 keping uang emas
perhari asal boleh jualan rokok klobot. Cara Roro Mendut berjualan adalah
setiap lelaki yang ingin membeli rokok, ia masuk ke bilik Roro Mendut. Menurut cerita,
Roro Mendut menjilat kertas klobot sebagai lemnya. Roro Mendut juga merokok
dulu sebelum di serahkan kepada sang pembeli. Semakin basah klobotnya, dan
semakin pendek puntung yang diberikan kepada pembeli, semakin mahal Roro Mendut
mendapat bayaran.
Pertanyaan yang menggelayut
kemudian, berapa box rokok yang harus dijual Roro Mendut dan juga berapa liter
air liur yang dibutuhkan untuk mengelemnya? Untuk menghasilkan minimal 3 keping
uang emas per hari.
Setelah mendapat pelajaran dengan
pendekatan yang berbeda, ternyata “Jual Rokok Klobot” adalah penghalusan kisah.
Rokok klobot memang ditawarkan sebagai additional
service, tapi bisnis yang dilakukan sebenarnya adalah bisnis “anu”.
Bisnis “anu” merupakan pertahanan
terkahir yang dilakukan oleh Roro Mendut saat ketiadaan modal, sulitnya akses
dan tidak ada perlindungan undang-undang.
Di jaman modern ini ternyata
bisnis ala Roro Mendut di gemari oleh sebagian Roro Mendut di Era Kontemporer. Saya
mengistilahkan dengan “Roro BO”. Dengan “bisnis klobot” dengan modal yang tidak
terlalu ribet, 3 keping uang emas dapat diperoleh per hari.
Namun yang menjadi pertanyaan
adalah apakah Roro Mendut di Era Kontemporer mengalami kondisi yang sama dengan
Roro Mendut masa itu yang dia harus begitu karena tidak ada jalan yang lain?




Tidak ada komentar:
Posting Komentar